Grow Fast, Built to Crash. Grow Slow, Built to Last.
Business is Like a Marathon, Not a Sprint.
Ada satu quote menarik dari Coach Rully yang menurutku kuat sekali maknanya:
“Grow fast, built to crash. Grow slow, built to last.”
Ditambah satu kalimat penguat:
“Business is like a marathon, not a sprint.”
Tiga kalimat ini terlihat sederhana, tetapi ketika dipahami lebih dalam, isinya seperti pelajaran panjang tentang bagaimana cara membangun bisnis, karier, bahkan hidup.
1. Apa Maksud dari “Grow Fast, Built to Crash”?
Pertumbuhan yang terlalu cepat biasanya tidak diikuti kesiapan sistem di dalamnya. Dalam dunia bisnis, fenomena “tumbuh cepat lalu hancur” ini sangat sering terjadi.
Contohnya:
-
Bisnis minuman viral yang membuka banyak cabang dalam tiga bulan, lalu tutup di tahun pertama karena manajemen tidak siap.
-
Freelancer yang menerima banyak klien sekaligus, pendapatannya naik tinggi, tetapi burnout dan hilang beberapa bulan.
-
Startup yang gencar membakar uang investor untuk mengejar pertumbuhan cepat, tetapi gagal menciptakan bisnis yang benar-benar menghasilkan.
Menurut data CB Insights, 42 persen startup gagal karena tidak ada market demand, dan 29 persen gagal karena kehabisan uang. Dua penyebab ini sangat identik dengan pertumbuhan yang dipaksakan terlalu cepat. Kecepatan tanpa arah dan fondasi justru menjadi bumerang.
Pertumbuhan cepat memang terlihat mengesankan dari luar, tetapi sering kali rapuh di dalam. Seperti bangunan bertingkat tinggi yang dibangun sebelum fondasinya sempat mengeras. Dari luar tampak besar, tetapi dari dalam belum siap menghadapi beban sebenarnya.
2. “Grow Slow, Built to Last”: Kenapa Pertumbuhan Lambat Justru Lebih Stabil?
Pertumbuhan yang lambat bukan tanda bahwa kita tidak mampu. Justru pertumbuhan lambat sering kali menjadi ciri bahwa fondasinya sedang dibangun dengan benar.
Pertumbuhan lambat memiliki beberapa karakter:
-
Ada ruang untuk belajar.
-
Ada waktu untuk memperbaiki kesalahan.
-
Sistem internal tumbuh seiring kemampuan.
-
Strategi berubah sesuai pengalaman.
-
Tekanan mental lebih ringan.
Contoh yang paling mudah adalah banyak bisnis besar dunia seperti Patagonia, IKEA, dan bahkan brand lokal yang tumbuh melalui proses panjang. Mereka tidak populer dalam satu malam. Mereka tidak tergesa-gesa mengejar angka. Mereka membangun kualitas, konsistensi, dan budaya kerja yang kuat terlebih dahulu.
Dalam konteks personal branding atau freelance, pertumbuhan pelan juga biasanya lebih sehat. Kamu mulai dari satu klien, belajar, memperbaiki cara kerja, menaikkan harga sedikit demi sedikit, lalu menambah kapasitas. Semakin kuat pondasimu, semakin besar peluangmu bertahan dalam jangka panjang.
Pertumbuhan pelan membuat bisnis lebih adaptif. Jika terjadi perubahan pasar, bisnis yang tumbuh perlahan umumnya lebih lentur menyesuaikan diri, tidak langsung tumbang hanya karena satu guncangan kecil.
3. Hidup dan Bisnis Itu Maraton, Bukan Sprint
Coach Rully menegaskan bahwa bisnis adalah maraton. Dalam maraton, kemenangan datang dari ritme dan konsistensi, bukan dari kecepatan awal. Kamu boleh berlari lambat, tetapi yang penting adalah kamu tetap melangkah.
Sprint membutuhkan tenaga eksplosif dalam waktu singkat. Maraton membutuhkan strategi, kestabilan napas, manajemen energi, dan kesadaran diri.
Banyak orang memulai bisnis atau karier dengan pola sprint: ingin cepat viral, cepat dapat klien, cepat dikenal, cepat kaya. Mereka ingin semuanya terjadi dalam hitungan bulan. Padahal penelitian Harvard Business Review menunjukkan bahwa 80 persen bisnis yang tumbuh terlalu cepat tidak bertahan lima tahun.
Sementara bisnis yang tumbuh bertahap justru memiliki tingkat ketahanan lebih besar, bahkan ketika kondisi ekonomi berubah.
Semakin sering aku mengamati perjalanan orang-orang sukses, semakin terlihat bahwa mereka adalah pelari maraton. Mereka tidak terburu-buru. Mereka memperbaiki langkah demi langkah. Mereka tidak sibuk mengejar hype, tetapi fokus membangun sesuatu yang benar-benar kuat.
4. Pertumbuhan Pelan Lebih Sehat untuk Mental
Ada sisi lain yang jarang dibahas: pertumbuhan lambat biasanya lebih baik untuk kesehatan mental.
Saat kamu tumbuh pelan:
-
Kamu tidak perlu menekan diri untuk selalu terlihat berhasil.
-
Kamu punya waktu untuk bernapas, istirahat, dan menata ulang langkah.
-
Kamu belajar memahami ritme kerja yang cocok untuk dirimu.
-
Kamu bisa menjaga kualitas layanan tanpa terburu-buru.
-
Kamu mampu menikmati prosesnya.
Bandingkan dengan pertumbuhan yang terlalu cepat. Tekanan besar datang tiba-tiba, dan tidak semua orang siap.
Burnout mudah terjadi. Ekspektasi melonjak. Ada ketakutan untuk gagal di depan banyak orang. Ada rasa dikejar-kejar untuk mempertahankan performa yang seharusnya belum saatnya.
Pertumbuhan pelan bukan hanya stabil untuk bisnis, tetapi juga stabil untuk jiwa. Dan itu penting, apalagi jika kamu ingin bertahan dalam profesi kreatif atau bisnis jangka panjang.
5. Pelajaran: Menangkan Konsistensi, Bukan Kecepatan
Ketika kita menggabungkan makna dari semua quote Coach Rully, pesan utamanya sangat jelas.
Orang yang cepat naik bukan selalu orang yang paling sukses.
Yang paling sukses adalah orang yang tidak berhenti.
Inilah inti pertumbuhan jangka panjang:
-
Konsistensi lebih kuat daripada kecepatan.
-
Kualitas lebih penting daripada popularitas sesaat.
-
Kapasitas lebih penting daripada angka-angka instan.
-
Ketahanan lebih berharga daripada pencapaian cepat.
Penelitian dalam behavior science berulang kali menunjukkan bahwa kebiasaan kecil yang dijalankan terus-menerus memiliki dampak jauh lebih besar daripada usaha besar yang dilakukan sesekali.
Sama seperti dalam lari maraton, pemenangnya bukan orang yang berlari paling cepat di awal, tetapi orang yang tetap berlari ketika yang lain mulai berhenti.
6. Jadi, Haruskah Kita Selalu Tumbuh Pelan?
Tidak harus. Pertumbuhan cepat bisa terjadi, dan itu tidak salah. Tetapi pertumbuhan cepat hanya aman jika fondasinya sudah dibangun sebelumnya:
-
Skill kuat
-
Sistem kerja rapi
-
Kapasitas waktu jelas
-
Manajemen risiko disiapkan
-
Mental siap menghadapi tekanan
Jika fondasinya belum ada, maka pertumbuhan pelan lebih aman dan lebih bijak.
Yang terpenting bukan cepat atau lambatnya.
Yang terpenting adalah apakah pertumbuhan itu bisa dipertahankan dalam jangka panjang.
Akhir : Kamu Tidak Tertinggal, Kamu Sedang Membangun Fondasi
Jika progress hidup atau bisnismu terasa lambat, bukan berarti kamu gagal.
Kamu sedang membangun pondasi.
Dalam maraton, pelari yang stabil justru lebih berpeluang sampai garis akhir.
Dan bisnis seperti itu: panjang, melelahkan, penuh naik-turun, tetapi bisa bertahan jika dibangun dengan ritme yang tepat.
Kalimat Coach Rully ini bukan hanya nasihat bisnis, tapi cara memandang hidup:
Grow fast, built to crash.
Grow slow, built to last.
Business is like a marathon, not a sprint.
Pelan tidak apa-apa. Yang penting kamu terus melangkah dan tidak berhenti.